Kebaikan-kebaikan kecil
Pada hakikatnya tujuan hidup kita bukan bagaimana kita mendapatkan uang dan materi yang bercukupan ataupun kesenangan-kesenangan lainnya, tujuan hidup sebenarnya ya berbuat kebaikan. Kebaikan tidak memandang anda beragama atau tidak ataupun seberapa tingkat religiusnya anda. Karena hakikatnya kebaikan bersumber dari hati kita, banyak cerita-cerita kebaikan yang dilakukan orang tak beragama ataupun orang yang pengetahuan agama mereka kurang. Mereka melakukan kebaikan beralaskan cinta dan ketulusannya, itu anugerah tersendiri dari Tuhan.
Bagaimana memulai kebaikan? Keberanian, ya butuh keberanian untuk memulai kebaikan. Ketika kita melakukan suatu kebaikan terkadang diselimuti oleh keraguan ataupun rasa malu dalam hati. Pikiran dalam hati pun bermacam-macam sebelum melakukan kebaikan, nanti inilah nanti begitulah, ada keraguan dan rasa malu. Disini kita sendiri yang mementukan pilihan anatara berani atau diam. Misalnya saja saat berada dalam angkutan umum, disebelah kita ada seorang ibu-ibu berdiri dengan mengendong barang belanjaan. Ibu itu berdiri karena sudah tidak ada kursi kosong lagi. Apa yang akan kita lakukan? Berani atau Diam? Pada waktu inilah kita menentukan pilihan kita. Ketika kita menentukan pilihan berani pun masih ada saja ganjalannya, entah dikira sok peduli lah ataupun reaksi-reaksi aneh penumpang lainya. Keberanianlah yang mengalahkan omongan orang lain yang membuat kita merasa malu dan juga ego kita yang membuat kita malas bergerak yang membuat kita tidak mau berkorban. Keberanian yang membedakan kita dengan mereka.
Ketika kita sudah memulai kebaikan dengan baik, selanjutnya kita membiasakannya. Membiasakan dari yang kecil, ya kebaikan-kebaikan kecil. Banyak dari kita yang menyepelekan kebaikan-kebaikan kecil. Melakukan kebaikan semacam ini dianggap gak ngeh gak ada istimewanya. Kita sering berebutan untuk melakukan kebaikan-kebaikan besar agar diketahui oleh orang lain ataupun diliput oleh media massa. Pastinya tidak ada ketulusan dalam hati dalam melakukan kebaikan tersebut hanya semata-mata demi kepentingan dirinya sendiri. Jangan pernah menyepelekan kebaikan kecil, kebaikan kecil selalu punya arti. Apa yang tampak besar, dulu dimulai dari yang kecil-kecil.
Sudah banyak sekali bukan kisah-kisah kebaikan-kebaikan kecil pada zaman Nabi dulu.? Pertama, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan “Pada
suatu saat ada seekor anjing berkeliling di sekitar sumur dalam keadaan
hampir mati karena kehausan. Tiba-tiba ada seorang wanita pelacur dari
kalangan Bani Israil yang melihatnya. Kemudian wanita tersebut melepas
sepatunya lalu mengambil air untuk anjing tersebut dengan sepatu itu,
lalu memberinya minum. Ia pun diampuni karena hal tersebut”. Diceritakan pula dalam riwayat Muslim yang lain dari Abu Hurairah dari Nabi bahwa beliau bersabda, “Sungguh,
aku telah melihat seorang laki-laki berguling-guling di surga hanya
karena dia memotong dahan pohon di badan jalan yang menganggu manusia.”
Yang jadi pertanyaan, Apakah kita tahu mana amalan kita yang diterima oleh Allah? jawabannya jelas tidak, ya kita tidak akan pernah tahu kapan rahmat Allah turun dan amalan mana yang akan diterima oleh Allah. Mungkin amalan yang setiap minggu atapun bulanan yang rutin kita lakukan seperti menyumbang atau apapun lainnya tidak diterima Allah karena tipisnya ketulusan dan riya. Bukan tidak mungkin kebaikan-kebaikan kecil seperti memberikan senyuman, menyapa, menjawab salam, mengangkat jemuran teman ataupun kebaikan-kebaikan kecil lainnya membawa kita pada rahmat dan ridho Allah.
Kita tidak akan pernah tahu, Wallahu a’lam bish-shawab.
Dimulai dengan keberanian, dijalani dengan ketulusan, diakhiri dengan keindahan.


Komentar
Posting Komentar