Kualitas Bukan Kuantitas

Dalam kehidupan di sekitar kita masih banyak yang lebih memperhatikan kuantitas bukan kualitas, Kenapa islam mengajarkan untuk mendoakan seseorang agar umurnya barakah bukan umur panjang? ya karena barakah sendiri itu menunjukkan kualitas hidup dan ibadahnya, sedangkan umur panjang ya sebaliknya, hanya kuantitas.

Kualitas tidak hanya untuk masalah spritual saja, masalah duniawi juga diperlukan. Terkadang dunia cenderung mementingkan kuantitas daripada kualitas. Contoh saja, banyak artis yang mementingkan berapa banyak jumlah penontonnya sebelum mereka menerima tawaran manggung. Ada seorang gitaris asal Amerika berkata bahwa dia tidak peduli berapa jumlah penontonnya. "I don't care if it's 5 or 10 people. As long as they enjoy my performance, I'll be delighted." katanya sambil tersenyum. Sungguh luar biasa gitaris satu ini, sebuah sikap profesional yang sangat indah didengar. Dan juga dalam dunia pendidikan, banyak lembaga-lembaga pendidikan yang masih mementingkan masalah kuantitas dari jumlah muridnya. Pendidik/Guru merasa bersemangat ketika melihat banyak murid namun sebaliknya lemas ketika melihat banyak bangku-bangku kosong. Dari sini profesionalisme sebagai pendidik/guru akan menjadi berkurang. Kita tidak pernah tahu, bukan tidak mungkin dari murid yang sedikit yang kita didik nantinya akan menjadi orang besar. Bukannya Tuhan mengajarkan untuk tidak memandang hina hal-hal kecil? Dalam konteks ini, Sebagai pendidik, seharusnya mengajar dengan kualitas yang sama baik ketika muridnya berjumlah banyak ataupun sedikit, jumlah tak jadi pengaruh. Satu orang atau sepuluh orang, harus sama seriusnya dalam mentransfer ilmu mendidik mereka.
Dalam masalah spiritual juga masih banyak ditemukan masalah-masalah kualitas dan kuantitas ini. Di semua agama  apapun pasti ada, entah itu Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan lainnya. Di Agama Islam, untuk masalah dzikir, pertanyaanya apa  sih tujuan dari dzikir itu sendiri? Tidak lain untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Hakikatnya dzikir itu tidak hanya menyebut atau menuturkan nama Allah, melainkan seluruh aktifitas anggota badan. Dalam berdzikir, kuantitas dan kualitas harus seimbang. Dalam surah surah Al-Ahzab (33) : 41,  Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allâh, dzikir yang sebanyak-banyaknya”. Perintah untuk memperhatikan segi kuantitas juga ditekankan disini dengan maksud agar kita selalu terjagaa untuk mengingat Allah setiap saat setiap waktu. Tapi percuma saja mulut kita bedzikir sebanyak-banyknya tapi hati kita mati, kualitas dzikir itu sendiri dipertanyakan? habis selesai sholat, duduk lama di masjid dengan mulut komat-kamit berdzikir tapi hati dan pikirannya gak jelas lagi dimana, jelas tanda tanya besar. Sebanyak-banyaknya itu bukan maksud artian dilakukan dalam satu waktu, bukankah istiqamah lebih baik daripada melakukan sesuatu yang besar namun hanya beberapa kali saja? Artinya dari yang sedikit asal istiqamah pastinya akan lebih baik. Tidak munafik kadang jika kita melakukan suatu ibadah yang terlalu banyak menjadikan kita menjadi kurang fokus dalam ibadah itu sendiri, menjadikan kualitas ibadah kembali dipertanyakan. 

 Small is big when God's in it -




Komentar

Postingan Populer