Hakikat Cinta, Obrolan Ki Selo dan Raden Ngabdulrahim (Pangeran Diponegoro)


''Untuk apa shalat, Kiai?'' Begitulah awal pertanyaan Raden Ngabdulrahim waktu itu. Ki Selo mulai bercerita.Mukadar mengernyit. Pertanyaan aneh, gumamnya. Tetapi setelah dipikir-pikir kembali, pertanyaan itu mulai juga mengganggunya. Ia mengingat-ingat setiap melakukan shalat. Benarkah sudah melaksanakannya dengan ikhlas? Pertanyaan itu tak mendapat jawaban karena Ki Selo sudah melanjutkan ceritanya. "Shalat diperlukan oleh seseorang yang ingin mencintai gusti Allah, Raden! ujar Ki Selo. Mengalirlah obrolan itu melalui penceritaan Ki Selo.

"Bila ada orang yang tidak ingin mencintai Gusti Allah bagaimana, Kiai?"
"Tidak apa-apa asal dia bisa menanggalkan segala curahan cinta Gusti Allah kepadanya. Mata lengkap dengan kedipannya, hidung sempurna dengan penciumannya, telingan dengan pendengarannya, dan sekujur tubuh dengan kesempurnaanya, adalah bukti kecil bagaimana Gusti Allah telah mencurahkan cintanya."
"Mengapa Gusti Allah menginginkan kita agar kita mencintai-Nya, Kiai?"
"Nah, pertanyaan itulah yang jauh lebih penting, Raden! Seseorang tidak akan meminta orang lain untuk mencintainya, melainkan ia telah mencurahkan cinta yang lebih tulus kepadanya terlebuh dahulu. Menerima cinta dari sesama makhluk hidup saja kita akan menampilkan diri sesempurna mungkin, lalu melengkapi segala kekurangan kita ketika mencurahkan cinta kepadanya. Bukan begitu, Raden?" Raden Ngabdulrahim hanya mengangguk saat itu. "Tapi mata tajamnya tak kurang dari cahaya semangat yang membuat ku selalu memiliki energi tambahan untuk mencurahkan segala pengetahuanku padanya." Jelas Ki Selo diiringi senyum tipis.

"Kepada orang yang dicintai saja akan mencurahkan cinta kita, bagaiman sikap kita terhadap Gusti Allah yang telah menciptakan makhluk dengan sebaik-baik penciptaan sebagai permulaan, lalu melahirkannya ke dunia, memberikan nikmat dan akhirnya kelak akan membangkitkan seluruh makhluknya ketika memasuki alam baru? Ibadah adalah salah satu wujud kecintaan. Ibadah adalah salah satu nilai dan  kesempurnaan cinta. Dalam hubungannya dengan hal itu kita melakukan shalat. Bagaimana, tanyaku waktu itu."

"Bagaimana reaksi Raden Ngabdulrahim pada waktu itu, Kiai?"
"Kau penasaran juga rupanya." canda Ki Selo. Lalu ia meneruskan ceritanya. "Ibadah adalah wujud dari cinta. Cinta adalah memberi." "Bukankah pada saat memberi, ada yang terambil. Kiai?"
"Benar setiap memberi pasti ada yang terambil, Raden. Tapi hal itu terjadi ketika yang memberi masih mencintai dirinya sendiri. Maka agar kita bisa mencintai tanpa merasa ada yang terambil, harus dimulai dengan keluar dari diri sendiri. Bahwa kita sebenarnya tidak memiliki apapun dan memiliki hak apa pun atas diri dan hal-hal yang ada diluar diri kita. Melakukan shalat sebagai bentuk pencurahan rasa cinta kepada Gusti Allah yang telah mencurahkan segala cintanya terlebih dahulu. Pencurahan cinta tanpa pamrih. Apakah bisa kita melakukan itu tanpa kesadaran bahwa kita telah menerima curahan cinta dari Gusti Allah, Kiai? Begitulah pertanyaan dari Raden Ngabulrahim saat itu. Aku segera menjawabnya, agar rasa penasaran itu tak menggantung. Memberikan cinta tanpa pamrih bisa dilakukan ketika kita memahami hakikat cinta itu sendiri, Raden!"

Mari sama-sama merenungi, memaknai dan berusaha untuk mengamalkannya :)

Diambil dari Novel pertama dari Trilogi Pangeran Diponegoro
Judul Novel   :  Siapakah Pengkhianat Diponegoro?
Karya            : E.R. Asura
Penerbit         : Imania

Komentar

Postingan Populer