Puasa dan Kesenangan
Puasa dan Kesenangan
Cobalah engkau beranjak dari kursi, pergilah ke cermin. Sejenak
saja. Tataplah wajahmu, badanmu, pakaianmu, dan seluruh penampilanmu. Setidaknya,
engkau bisa menyadari satu hal saja : bahwa potongan rambutmu yang seperti itu,
jenis dan warna baju dan celanamu, juga seluruh benda yang menempel di badanmu,
semuanya adalah sesuatu yang kau pilih sesuai dengan kesenanganmu.
Kesenangan. Kesukaan. Selera. Kemauan. Keinginan. Kepentingan.
Serta ingatlah segala kata dan istilah yang sejenis makna dengan itu. Kemudian hitunglah
kalau engkau berkenan dan sempat seberapa besar peran kesenangan di dalam
kehidupanmu. Dan berapa persentase ketidaksenangan. Dan, akhirnya engkau
renungkan bagaiman sesungguhnya sikap batinmu, sikap pikiran dan jiwamu,
terhadap kesenangan dan ketidaksenangan. Renungan terhadap senang dan tidak
senang bisa mengantarmu kepada kenyataan tentang seberapa jauh engkau terikat
paa kesenangan pribadimu serta seberapa jauh engkau cenderung menolak
ketidaksenangan hatimu.
Engkau membeli pakaian itu karena engkau menyenanginya. Engkau
membeli barang dan perabot itu karena engkau menyenanginya. Dan, engkau tidak
memilih ini serta tidak membeli itu karena engkau tidak menyenanginya. Apakah engkau
menjadi ketua RW karena engkau menyenangi jabatan itu? Apakah engkau menjadi
pedagang, menjadi menteri, dan menjadi presiden karena engkau menyenanginya? Apakah
engkau melakukan shalat dan puasa karena engkau menyenanginya? Apakah engkau
lahir di dunia karena engkau menyenanginya? Dan, apakah engkau nanti
meninggalkan dunia ini karena engkau menyenanginya?
Aku hanya ingin menuturkan kepadamu sebuah hakikat nilai,
yang kumohon engkau mencari dan kudoakan engkau bisa menemukannya dengan cara
menjawab pertanyaan dasar ini: apakah engkau hidup dan melaksanakannya
berdasarkan senang dan tidak senang, ataukah ada nilai lain yang lebih
mendasar?
Kalau engkau menggerakkan tangan dan melangkahkan kaki hanya
karena didorong oleh senang dan tidak senang, maka engkau adalah bayi. Bayi itu menangis, tertawa, mengambil apa saja untuk
dimainkan oleh tangannya, memakan apa saja, semata-mata didorong oleh
kesenangannya. Untuk melakukan kesengan, engkau tidak memerlukan kualitas atau
mutu kepribadian apapun. Kecuali ketika kesenangan itu memerlukan teknologi,
ilmu, dan bakat, maka engkau dipersyarati oleh ketiga hal itu untuk menuruti
kesenanganmu. Akan tetapi dengan itu mentalmu tak perlu bekerja. Cukup selera,
pengetahuan, dan keterampilan. Namun, dengan itu, engkau tidak akan pernah siap
untuk menjadi manusia pejuang. Sebab, perjuangan sering mengharuskanmu untuk
melakukan apa yang tidak engkau senangi dan tidak melakukan apa yang tidak
engkau senangi.
Apakah engkau menjadi buruh pabrik karena engkau senang
menjadi buruh pabrik? Pada dasarnya, tidak. Engkau sebenarnya terpaksa menjadi
buruh pabrik karena perlu memperjuangkan hidupmu. Apakah engkau menjadi sales,
menjadi pegawai kecil, menjadi sopir taksi, menjadi penjual bakso, dan lain
sebagainya karena itu memang kesenanganmu? Pada dasarnya, tidak. Engkau senangnya
menjadi menteri, direktur, konglomerat, gubernur atau paling tidak menjadi
camat. Tapi tidak bisa, sehingga engkau memerlukan perjuangan untuk menjadi apa
yang kini engkau menjadi.
Puasa adalah sebuah metode dan disiplin agar engkau melatih
diri untuk melakukan apa yang pada dasarnya tidak engkau senangi serta tidak
melakukan apa yang pada dasarnya engkau senangi. Cobalah ulangi pandang dirimu
di cermin dan tataplah kenyataan hidupmu itu”bersifat hari raya”, yaitu
memenuhi kesenangan.
Adapun puasa melatihmu untuk bermental pejuang. Pada dasarnya,
engkau tidak senang lapar. Engkau pada dasarnya secara alamiah menyenangi
kenyang, makan, dan minum tapi engkau tiddak diperkenankan menikmatinya dari
shubuh hingga maghrib. Karena apa? Pertama, karena dalam hidup ada yang lebih
sejati sebagai nilai dibanding senang dan tidak senang. Ialah baik dan harus
atau wajib. Engkau melakukan sesuatu tidak terutama karena kau senang, tetapi
karena hal itu baik, sehingga wajib engkau lalukan. Jadi, kedewasaan dan
kematangan kepribadian dalam islam adalah kesanggupan untuk menjalani hidup ini
tidak terutama berdasarkan senang atau tidaknya, tetapi berdasarkan baik atau
tidak baik, wajib atau tidak wajib. Kedua, karena engkau adalah khalifatullah,
karena engkau adalah makhluk sosial, maka yang dibutuhkan darimu terutama
adalah daya juang untuk sesana manusia. Apakah engkau seng mebagi-bagikan uang
hasil jerih payah kerjamu? Apakah engkau senang menolong oranglain yang menderita
dan memerlukan pengorbananmu? Apakah engkau senang membela orang-orang tertindas?
Kalau kesiapanmu hanyalah menuruti kesenangan, maka kewajiban-kewajiban sosial
semacam itu akan sangat sedikit yang bisa engkau lakukan, sehingga di mata
Allah, derajatmu tidak tinggi. Sebab, sebaik-baiknya manusia adalah yang
bermanfaat bagi orang lain.
Maka, itulah manfaat puasa. Melatihmu untuk menjadi manusia
yang mapu menaklukan kesenanganya. Mampu lebih besar dan mengatasi
kesenanganya. Mampu minum jamu pahit yang tidak enak. Mampu lapar dan haus. Mampu
mengorbankan kesenangannya demi kewajiban dari Allah dan kebaikan bagi sesama
manusia. Syukur kalau engkau memproses batinmu sedemikian rupa sehingga
kesengan dan kewajiban atau kebaikan bisa menyatu.
Oleh : Emha
Ainun Najib dalam bukunya Tuhan Pun “Berpuasa”


Komentar
Posting Komentar