Takdir
Bagaimana Kita Menyikapi Takdir
Semua manusia yang hidup pada hakikatnya pasti menanti
takdir, entah itu takdir baik maupun takdir buruk. Takdir baik maupun takdir
burukpun sejatinya bermaksud baik. Tinggal bagaimana kita menyikapi takdir
tersebut. Pertanyaannya, Takdir yang mana yang mempunyai nilai kebaikan yang tinggi
antara takdir baik ataupun takdir buruk? Jelas, kebaikan yang bernilai lebih
cenderung didapat dari takdir buruk dibandingkan dengan takdir baik. Sekali lagi,
tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Ada sebagian orang memahami kehidupan itu bahwasanya hidup
itu hanya untuk menanti takdir. Dikatakan menanti takdir karena apapun yang
terjadi pada diri kita adalah takdir Allah. Hari ini kita bisa bertemu, hari
ini kita makan bersama dan lain-lain, takdir siapa lagi kalau bukan takdir
Allah. Ada juga takdir Allah yang lain, yang karena belum terjadi kita tidak
tahu apakah takdir itu. Kalo kita berencana belum tentu menjadi kenyataan.
Bahwa kita berencana itu juga merupakan dari takdir Allah. Tapi apakah yang
akan terjadi akan sesuai dengan rencana atau tidak, itu lah yang akan
sepenuhnya menjadi takdir Allah.
Kita pastilah sama-sama menanti takdir Allah. Tidak hanya
orang yang sholeh yang menanti takdir, yang tidak pun juga akan menanti takdir.
Menanti datangnya takdir itu ada 2 kemungkinan, yang pertama adalah menunggu
takdir dalam keadaan sibuk dalam kebaikan,yang kedua menunggu takdir dalam
keadaan sibuk dalam kesiasiaan. Kira-kira kualitas takdir yang ditunggu dalam
kebaikan dan kesiasiaan akan sama atau beda? Pastilah beda. Jadi yang menjadi
persoalan adalah kita sibuk dalam apa? Sibuk dalam kebaikan atau kesiasiaan? Insyaallah
kalo kita menyibukkan diri dalam hal
kebaikan maka akan hadir takdir untuk kita takdir kebaikan yang membawa
kebaikan. Kalo pun kita sibuk dalam
kebaikan ternyata takdir yang datang takdir buruk, insyaallah kita pasti selalu
menemukan kebaikan dibaliknya atau hikmah dibalik takdir tersebut. Misalnya pada
saat kita membaca al quran di luar tiba-tiba ada bola yang mengenai kepala
kita, itu merupakan takdir buruk. Dan insyaallah kalo kita sibuk dalam hal
kebaikan takdir buruk tersebut akan membawa kebaikan ataupun keberkahan dalam
bentuk kita taadzim kepada Allah. Ya allah sungguh engkau sangat luar biasa,
kepala saya ini kecil bola ini juga kecil, saya berada di alam yang sedemikian
luasnya, kok bisa bola ini mengenai saya, ini tidaka akan terjadi tanpa izin-Mu
dan tanpa kekuasaan-Mu. Dan pada saat itu juga kita langsung memuji Allah
dengan mengucap innalillahiwainnailaihirojiun. Berarti takdir terkena bola
tersebut yang jelas merupakan takdir buruk akan menjadikan kebaikan buat kita. Beruntung
lah orang yang sibuk dalam kebaikan. Kalo orang yang sibuk dalam kesiasiaan
datangnya takdir baikpun akan dipandang sebagai pembawa keburukan misalnya lagi
asyik nonton bola dengar adzan, yang merupakan takdir baik,tapi adzan yang
sebenarnya takdir baik bagi orang yang larut dan sibuk dalam hal kesiasiaan
tadi dipahami sebagai pembawa keburukan. Nah oleh karena itu, menjadi penting
untuk pribadi kita mau sibuk dalam hal apa? Mau sibuk di sisi yang mana?
Semoga Allah selalu menuntun diri
kita untuk selalu istiqamah dalam melakukan hal-hal kebaikan. Amin


Komentar
Posting Komentar