MEMBANGUN MANUSIA


            17 Agustus 2012, di serambi Masjid Ponpes Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang, seusai sholat shubuh berjamaah para santri kembali lagi ke barak untuk melanjutkan aktifitasnya kembali. Beberapa santri ada yang kembali melanjutkan tidur, sebagian lainnya mengantri untuk mandi dan terlihat belasan santri yang lain sudah berada di lapangan untuk menyiapkan upacara peringatan HUT RI pagi hari itu. Dari persiapan peralatan, seragam dan baris-berbaris dipersiapkan dengan matang.
            “Apa yang kamu pikirkan, Umar? Pagi-pagi kok sudah melamun” tanya seorang lelaki tua dengan surban dikepalanya. “tidak ada yang sedang dipikirkan, Yai. Cuma sedang pingin melamun saja” ujar Umar. “Saya perhatikan akhir-akhir ini kamu sering melamun sejak kamu ditugaskan menjadi ketua bagian pengabdian masyarakat. Saya tahu apa yang kamu pikirkan” “nggeh, Yai. Saya merasa tidak pantas menjadi ketua bagian pengabdian masyarakat, Yai. Ada banyak hal yang tidak bisa saya kerjakan dengan baik” “jangan berpikiran seperti itu. Memang berurusan dengan masyarakat itu tidaklah mudah. Saya menunjuk kamu sebagai ketua karena saya percaya kamu orang yang mampu menghadapinya” Umar hanya terdiam menatap lantai serambi masjid. “Permasalahan yang kita hadapi di masyarakat memang kompleks. Dari anak-anak mudanya, perseteruan antar warga masyarakat dan juga tatanan pemerintah semakin lama semakin mengkhawatirkan” “nggeh, Yai. Terutama masalah anak-anak muda disini. Tidak sedikit yang sudah terpengaruh minuman keras, narkoba dan sex bebas. Sebagian besar dari mereka juga sudah tidak mengenal bangku pendidikan. Ditambah tidak adanya kemauan untuk belajar agama. Saya benar-benar khawatir, Yai” sahut Umar sambil menatap kosong ke arah depan. “Memang benar apa yang kamu katakan itu. Generasi anak-anak muda saat ini sudah lepas dari kontrol, entah itu kontrol dari orang tua, pendidikan di sekolah dan agama. Pengaruh dari luar seperti teman, internet dan lingkungannya lebih besar” Terdengar suara bel berbunyi disertai pengumuman. “Mohon perhatian, diharapkan untuk semua santri sudah berkumpul di lapangan tepat jam 06.30 WIB untuk mengikuti upacara bendera” “lain waktu kita bicarakan lagi. Sekarang kamu siap-siap untuk upacara” “nggeh, Yai. Saya pamit. Assalamualaikum” sahut Umar sambil mencium tangan Yai-nya.
            Upacara peringatan kemerdekaan berjalan dengan lancar, petugas pengibar bendera berjalan dengan gagahnya, Sang Saka Merah Putih gagah berkibar dilangit, lagu indonesia raya dikumandangkan dengan lantang membuat bulu kuduk berdiri sejenak merasakan khitmatnya upacara bendera tahun ini. Upacara pun ditutup dengan berdoa bersama, para santri terlihat khusyuk dalam mengamini setiap doa yang dipanjatkan.
            Aktifitas di pondok pesantren di hari libur sedikit berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Kagiatan belajar di sekolah diliburkan juga kajian malam ditiadakan. Umar, Shidiq dan Choirul sebagai santri senior lebih sering menghabiskan kesempatan hari libur ini di barak. Sekedar mengobrol satu sama lain terkadang juga membaca buku yang minggu kemarin dibelinya di kota. “Diq, Rul, kalian selo gak sore ini?” tanya Umar sambil membereskan rak bukunya “aku selo kok” sahut shidiq “ada apa emangnya, Mar?” tanya choirul “aku pingin jalan-jalan aja ke perkampungan warga. Kalo kalian selo ikutan yuk biar rame” “boleh. yuk, aku ikut” kata choirul “kok tumben kamu ngajak keliling perkampungan warga, Mar?” sahut Shidiq “Ada amanah dari Pak Yai yang harus dilaksanakan dan aku juga perlu bantuan kalian berdua” “amanah apa? Penting? Sela Shidiq “nanti aku ceritakan diperjalanan saja. Aku tunggu kalian di bawah ya” “oke siap” sahut Shidiq dan Choirul bersamaan.
            Seusai mereka bertiga meminta izin dengan penjaga pondok, perlahan-lahan mereka meninggalkan gerbang pondok menuju ke perkampungan warga melewati sawah dan ladang warga. “Amanah apa, Mar yang diberikan Pak Yai?” Shidiq penasaran “iya nih aku jadi penasaran” sahut Choirul “begini Diq, Rul, Aku diberi amanah Pak Yai menjadi ketua bagian pengabdian masyarakat” “hah? Yang benar?“ Shidiq terkejut “Iya, Diq, 2 minggu lalu tepatnya Pak Yai menyampaikan amanah ini” “kamu menyanggupinya, Mar? Tanya Choirul “iya rul. Awalnya aku menolak, tapi Pak Yai begitu mempercayakan amanah ini padaku. Aku tidak bisa menolak begitu Pak Yai menjelaskannya. Aku butuh bantuan kalian berdua Diq, Rul” “oh begitu ceritanya, Mar. InsyaAllah kita siap membantu, Mar” kata Choirul mantap. “aku juga, Mar” jawab Shidiq.
Langkah-langkah kaki membawa mereka  mengelilingi perkampungan ini, dari ujung barat sampai ke timur lalu kembali lagi. “kalian lihat kan? Anak-anak SD disini setiap sorenya hanya bermain dilapangan seperti ini, tidak ada yang belajar mengaji setiap sorenya di masjid ataupun mushola kampung. Sedangkan anak-anak SMP sudah disibukkan dengan game online setelah pulang sekolah, terkadang pulang sampai rumah malam hari masih memakai seragam sekolah. Belum lagi anak SMAnya yang suka nongkrong gak jelas, balapan liar, tawuran dan minum minuman keras. Memang benar kata Pak Yai permasalahan generasi muda saat ini benar-benar kompleks. Oleh karenanya, kita sebagai santri harus segera mengambil tindakan walaupun ilmu kita pas-pasan, yang terpenting ada dorongan dari batin untuk mengajarkan kebaikan” kata Umar dengan lantang “Setuju, Mar. Kita berdosa jika hanya berdiam diri saja melihat kezaliman yang ada.” Sahut Shidiq. “terus rencanamu apa, Mar? Sudah terpikirkan?” tanya choirul singkat “dulu pernah terpikirkan untuk membuat kelas bimbingan dalam berbagai kelompok umur didalamnya” “wih benar-benar mantap konsepmu, Mar. Oh iya berarti kita juga perlu tempat dan peralatan dong” jawab Choirul “kalo masalah tempat dan peralatan nanti aku yang atur deh. Itu ada ruangan di balai desa yang bisa di pake, lumayan juga luasnya. Nanti aku minta ijin sama pegawai kantornya” sahut Shidiq dengan entengnya “oke. Untuk masalah ruangan dan peralatan aku mengandalkanmu, Diq” “Mar, bagaimana kalo kita mengumpulkan santri-santri lainya untuk membahas hal ini. aku rasa kita perlu menambah pasukan” sahut Choirul “setuju, Rul” jawab Shidiq singkat. “iya Rul, Diq, kalo hanya kita bertiga sepertinya bakal kewalahan” “Ya sudah. Kita lanjutkan pembahasannya nanti malam lagi. Yuk pulang sudah hampir maghrib” ajak Choirul.
Seusai sholat isya berjamaah, mereka bertiga kembali membentuk formasi dipojokan barak dekat dengan ranjang Choirul. “kira-kira siapa ya orangnya?” tanya Shidiq “mungkin kita bagi dulu bidang keilmuannya. Jadi yang kita butuhkan mulai dari bidang ilmu agama, sains dan sosial. Untuk agama aku percayakan kepadamu, Rul. Aku dan Shidiq masuk ke bidang sosial. Kira-kira kita membutuhkan 3 orang untuk masuk ke agama satu dan dua orang di bidang sains” jelas Umar “aku kira si Anas mau dia ajak untuk membantu” sahut choirul “untuk duo master sains nanti kita minta tolong master olimpiade matematika dan fisika dari pondok kita, Fajar dan Lukman” Kata Shidiq sambil nyengir “oke. Tolong nanti sampaikan kepada mereka terkait rencana kita ini. Kira-kira apalagi yang perlu dibahas?” kata Umar “begini Mar, aku sempat kepikiran dengan pembagian umur yang tadi kamu jelaskan. Untuk kelas SD, SMP dan SMA nanti kita bedakan dalam pemberian materi. Untuk kelas SD,  kita mengajarnya secara langsung. Sedangkan untuk yang kelas SMP dan SMA kita buat semacam kelompok diskusi disitu” jelas Choirul “idemu keren, Rul” sahut Shidiq “Bagus, Rul. Aku setuju dengan konsepmu itu” kata Umar “eh tapi, apa kalian yakin warga akan langsung menerima sikap kita ini?” celetuh Shidiq tiba-tiba “kita coba dulu saja, Diq. Persiapkan ruangan, peralatan dan teman-teman yang lain untuk minggu depan. InsyaAllah kita akan mulai hari jumat minggu depan” ujar Umar “Baiklah nanti aku koordinasikan dengan yang lainnya untuk minggu depan” jawab Shidiq “semoga saja niat baik ini dapat diterima dengan baik di warga masyarakat” kata Choirul mengakhiri obrolan malam itu.
            Tiba waktunya untuk memulai aksi, selepas ashar para santri bergegas menuju ke balai desa. Segala sesuatu sudah dipersiapkan dengan baik sebelum sholat jumat tadi. Ruangan sudah tertata rapi, peralatan tulis menulis sudah terpasang serta pengumuman telah diberitahukan ke warga masyarakat terkait rencana pengabdian tersebut. Namun apa daya, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Hanya tiga anak, itu juga kelas SD saja yang mengikuti kelas bimbingan sore ini. Tak terlihat minat anak-anak yang lain untuk mengikuti kelas bimbingan ini entah karena orangtuanya yang kurang peduli atau memang anaknya yang sulit diatur atau bisa juga karena sudah tidak adanya kemauan untuk berubah dari diri anak tersebut. Tak hanya tiga empat hari saja tanpa penambahan peserta kelas bimbingan. Bahkan sampai dua bulan mengadakan kelas bimbingan hanya menambah jadi 5 peserta saja. “mungkin kita akhiri saja kelas bimbingan ini, Mar. Sepertinya percuma kita buang-buang tenaga seperti ini” celetuh Shidiq tiba-tiba “sabar, Diq, nanti pasti ada jalan yang diberikan Allah untuk kita” ujar Umar “ini sudah 2 bulan, Mar, dan hanya ada 5 anak yang mau ikut kelas bimbingan ini, belum juga gak semuanya berangkat tiap harinya, kalo memang kamu masih memaksakan untuk melanjutkan ini silahkan. Aku mundur. Aku ikut Fajar dan teman-teman yang lain” ujar Shidiq “kamu pikirkan lagi, Diq keputusanmu itu” sela Choirul sambil menatap Shidiq “keputusanku sudah bulat, Rul. Aku hanya bisa mendoakan semoga kamu dan Umar senantiasa diberikan kesabaran terus menerus. Aku pamit. Assalamualaikum” Shidiq meninggalkan ruang kelas bimbingan. “Gimana ini, Mar?” tanya Choirul “Entahlah, Rul” jawab umar singkat. Umar dan Choirul tergeletak lemas bersandar di tembok ruang kelas bimbingan. Keduanya menatap kosong langit-langit. Bahkan untuk hari ini tak ada satupun peserta yang berangkat untuk mengikuti kelas bimbingan.
            “Assalamualaikum” terdengar suara ketukan pintu disertai salam. Sore itu Pak Yai mendatangi ruangan kelas bimbingan. “loh kok gurunya loyo gini, gimana mau ngajarin ke murid-murid nantinya?” kata Pak Yai “nggeh, Yai, hari ini peserta kelas bimbingan tidak ada yang datang. Kami bingung. Si Shidiq juga barusan mengundurkan diri, Cuma tinggal kita berdua, Yai” jawab Umar datar “oh begitu. Tidak apa-apa, yang terpenting kalian masih ada niat untuk tetap melanjutkan program ini kan” kata Pak Yai kalem “InsyaAllah, Yai” jawab Umar dan Choirul bersamaan “Baguslah. Saya percaya kalian berdua” kata Pak Yai “tapi kami mulai ragu, Yai, dengan kondisi yang seperti ini” celetuh Choirul tiba-tiba “Mar, Rul, dengarkan baik-baik. Membangun manusia itu berbeda dengan membangun istana ataupun hotel mewah. Tidak hanya bermodalkan uang dan tenaga saja, tapi keikhlasan, kesadaran serta kemauan dari dalam hati adalah modal utamanya. Membangun manusia bukanlah perkara yang mudah, memang dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Lihatlah perjuangan dan pengorbanan kalian, mulai dari menyiapkan ruangan dan peralatan lainnya dan pengorbanan waktu kalian. Dengan semua yang telah kalian perjuangkan dan korbankan itu saja masih tidak sesuai harapan kalian. Mulai dari minimnya peserta yang ikut dalam kelas bimbingan, ditambah lagi tiap harinya tidak pasti peserta datang mengikuti kelas bimbingan. Memang itu cobaan yang berat untuk kalian berdua. Tapi satu hal yang perlu kalian ketahui, dalam membangun manusia itu tidak mengenal berapa anak yang di didik. Mau satu orang ataupun duapuluh orang, harus sama serius dan ikhlasnya dalam mengajarkan ilmu ke mereka. Bukan kuantitas yang dikejar tapi kualitasnya. Kita tidak pernah tahu, bukan tidak mungkin dari anak-anak yang kalian didik ini nantinya akan menjadi orang yang berguna untuk kemajuan bangsa. Semoga saja kalian tetap istiqomah dalam menjalankan program ini dan juga ridho Gusti Allah menyertai kalian berdua” jelas Pak Yai

            “nggeh, Yai. Terimakasih, sekarang kami paham. InsyaAllah kami tetap istiqomah dalam menjalankan program ini. Kami minta doanya, Yai” sahut Umar sambil mencium tangan Pak Yai yang diikuti Choirul dibelakang. 

Komentar

Postingan Populer